Doa Karyawan Versus Doa Manajemen
21 Juli 2008
Salah satu ritual tahunan antara perusahaan (baca: manajemen) dengan karyawannya adalah perundingan kenaikan gaji. Pihak karyawan biasanya diwakili oleh serikat pekerja (SP). Sedangkan pihak manajemen biasanya membentuk team perunding yang diketuai oleh bos HRD atau personalia.
Ritual ini selalu ditunggu-tunggu oleh segenap karyawan dan dewan manajemen dengan penuh harap-harap cemas. Karyawan berharap agar angka kenaikan gajinya cukup untuk menambal kenaikan harga-harga akibat inflasi. Syukur-syukur kalau bisa di atas inflasi supaya ada sisa buat tabungan atau nyicil motor baru. Sedangkan manajemen, terutama Pak Bos, cemas apakah angka kenaikan gaji bisa sesuai budget.
Hasil perundingan selalu jadi ukuran keberhasilan pengurus SP di mata karyawan. Target mereka adalah kenaikan gaji senaik-naiknya. Minimal mereka harus bisa memperjuangkan gaji sesuai upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Kalau ternyata di bawah itu, silakan pilih: pengurus mengundurkan diri dengan penuh kesadaran, atau turun setelah didemo. Sedangkan bagi manajemen, target minimumnya adalah mempertahankan pertumbuhan biaya agar tidak lebih besar dibanding pertumbuhan penjualan, sehingga profit bisa terjaga. Ya, sekilas kepentingan dua pihak, SP dan manajemen, ini berbeda bahkan bertolak belakang satu sama lain. Oleh karena itulah diperlukan perundingan atau negosiasi atau musyawarah.
***
Beberapa kali Om terlibat dalam perundingan kenaikan gaji. Dari sekian pengalaman Om ikut dalam perundingan kenaikan gaji, ada satu pengalaman yang menarik, yaitu saat Om terlibat dalam perundingan kenaikan gaji tahun lalu. Sebenarnya tidak terlalu menarik dari sisi teknik negosiasi, teknik diplomasi atau hitung-hitungan angka duitnya. Justru yang menarik perhatian Om, bahkan sampai sekarang jadi bahan pelajaran spiritual, adalah doa. Lho kok doa? Ya, begini ceritanya.
Tahun lalu, acara perundingan gaji berjalan agak berkepanjangan. Kami bahkan melampaui tenggat waktu hingga beberapa bulan ke depan. Kenaikan gaji pun harus dibayar rapel. Target yang diemban masing-masing pihak tampaknya cukup berat untuk dicarikan garis tengahnya. Kami harus bertemu berkali-kali, menghabiskan bergelas-gelas kopi, berbatang-batang rokok, berbungkus-bungkus kacang kulit. Tetapi syukurnya, tidak sampai terjadi gontok-gontokan, apalagi demo-demoan. Itu semua berkat kelihaian Pak Ton, bos HRD kami, yang memang sudah terlatih menghadapi kerumitan macam begini. Mungkin suatu saat Pak Ton perlu dilibatkan dalam perundingan nuklir antara Iran dan Amerika ya, siapa tahu dapat nobel perdamaian. Halah.. ngelantur.
Setelah melalui beberapa kali perundingan dan tampaknya belum ada titik cerah, sekretaris SP mengusulkan agar kita sama-sama berdoa supaya perundingan bisa berjalan lancar. Ini usul yang biasa-biasa saja, tetapi buat Om jadi bahan renungan: doa siapa yang dikabulkan Tuhan? Apakah doanya SP? Atau, doanya Manajemen?
***
Om yakin, rekan-rekan SP berdoa pada Tuhan agar tuntutannya dikabulkan. Sedangkan team manajemen berdoa agar Tuhan berkenan memenuhi permintaan manajemen. Kira-kira, Tuhan lebih mendengar dan mengabulkan doanya siapa yaaa?
Mungkinkah Tuhan lebih mengabulkan doanya team SP? Bukankah team SP didukung oleh doa dari ratusan bahkan ribuan karyawan yang notabene sangat berharap ada kenaikan gaji demi meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Mungkinkah Tuhan lebih mengabulkan doanya manajemen, sedangkan manajemen sendiri pada hakikatnya adalah karyawan juga, yang senang kalau mendapat kenaikan gaji tinggi. Dengan kata lain, doa team manajemen belum tentu setulus dan sepenuh hati karyawan lainnya.
Menurut sampeyan bagaimana?
***
Om tanyakan ini pada ustadz di dekat rumah, Gus Alim. Jawabnya, “Lho, kok ndengaren (tumben) manajemen mikiri doa?”
“Maaf Gus, ini bukan pertanyaan manajemen. Tetapi pertanyaan saya pribadi. Saya hanya penasaran, apakah Gusti Pengeran lebih membela SP atau Manajemen. Kira-kira doa siapa yang dikabulkan Gus?”
“Weee, sampeyan itu ada-ada saja. Pengabulan itu hak mutlak Sang Khalik. Kata kitab-kitab ngaji, ada syarat-syarat yang menyebabkan doa itu terkabul. Apa sampeyan mau ngaji bab ini?”
“Wah, lain kali saja Gus. Om merasa nggak bakalan bisa memenuhi syarat-syarat itu,” bisik Om dalam hati. Om malah jadi khawatir, jangan-jangan doa Om nggak bakalan dikabulkan. Bagaimana bisa dikabulkan lha wong Om ini bukan termasuk manusia yang beriman berlian. Ibadah wajib saja bolong-bolong. Yang sunnah malah nggak pernah. Justru yang haram sering diterabas sambil pasang muka bloon pura-pura nggak tahu. Mestinya Om malu sebelum berdoa minta ini minta itu kepada Tuhan.
“Begini saja,” lanjut Gus Alim, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Om. “Daripada sampeyan berdoa macam-macam yang belum tentu terkabul, atau malah ditolak, bagaimana kalau saya ajarkan satu doa yang Insya Allah dikabulkan? 99% terkabul.”
“Wah mau.. Gus, mau.”
“Doanya pendek dan gampang diingat.”
“Bagaimana doanya Gus?”
Lalu Gus Alim membisikkan beberapa kata. Om pun mengangguk-angguk takzim.
***
Kembali ke perundingan kenaikan gaji dengan SP. Perundingan masih belum jua menemukan kata sepakat. Jalan masih rumit, meski hal-hal yang njelimet mulai terurai sedikit demi sedikit. Ketua SP menutup rapat dan meminta kita sama-sama berdoa agar apa yang kita jalani selama ini bisa mendapat berkah, dan Yang Maha Kuasa berkenan mengabulkan harapan kita. “Berdoa, mulai,” kata Ketua SP.
Om memejamkan mata. Seketika itu juga muncul bayangan tentang apa-apa yang baru saja Om lakukan selama perundingan, tentang diplomasi dan silat lidah yang Om ucapkan, tentang data dan angka-angka yang Om paparkan, tentang pujian dan rayuan yang Om tebarkan. Lalu, tanpa sadar Om melafalkan doa yang diajarkan Gus Alim, “Astaghfirullaah… astaghfirullaah… astaghfirullaah..” Om mengaku dosa.
Salam hangat,
Om Ale
Juli 21st, 2008 at 11:27
mudah2an tahun ini naiknya 100 %.
Juli 21st, 2008 at 12:29
Menarik sekali. Memang umumnya doa itu diucapkan karena ada kepentingan. Konon, jawaban Tuhan tentang doa hanya 3, yakni: Baik, permintaanmu Kukabulkan.
Kedua, permintaanmu Kukabulkan tapi tidak sekarang. Ketiga, Tidak, permintaanmu mengada-ada…
Apakah benar? Entahlah, Aku tidak pernah (atau belum?) menanyakannya……
Juli 21st, 2008 at 16:05
Pse Adv tz email
semoga bermanfaat
thks-alam
Juli 21st, 2008 at 18:47
hhmmm..
biasanya kan manajemen sudah gede gajinya..
tidak perlu naek dulu deh..
Juli 22nd, 2008 at 05:31
Tuhan pasti menjawab sebuah doa, dan doa yang dikabulkan adalah doa yang sesuai dengan rencan dan kehendakNYa. Jadi sebelum berdoa lebih baik bertanya kepada Tuhan apa yang dikehendakiNya….baru kemudian meminta apa yang diinginkanNYa itu. Pasti dikabulkan!!!
Salam
Juli 22nd, 2008 at 08:26
HEHEH
aya-aya wae lah.
Juli 23rd, 2008 at 12:53
Doa karyawan: Tuhan, berilah kebijakan pada para pemimpin manajemen agar mengerti kondisi kami yang belanja pas-pasan untuk keluarga, agar kami dapat kenaikan gaji demi membayar sekolah anak-anak yang makin mahal, dan operasi ibu di rumah sakit …. (sambil nangis hik hik)
Doa manajemen: Tuhan, berilah kesehatan dan panjang umur bagi karyawan kami, agar mereka tidak sakit-sakitan dan menghabiskan anggaran, panjang umur biar nggak lekas pensiun jadi ilmunya masih bisa saya pakai, tapi berikan pula kesabaran pada mereka ya Tuhan, agar mereka nggak kheki karena saya janjiin terus terusan tapi jarang saya tepati ….